Anang Rikza Masyhadi
Penasehat Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Mesir 2002-2004
Kaum muslimin rahimakumullâh.
5 tahun lebih bangsa Indonesia berada dalam situasi krisis multidimensi, mulai dari krisis moneter, ekonomi, politik, sosial, hingga krisis moral. Gerakan reformasi yang sejak awal dicanangkan, ternyata tidak kunjung membawa perubahan. Banyak orang di negeri ini berpendapat, termasuk para pakar, bahwa pangkal dari krisis multidimensi adalah krisis moral, sementara gerakan reformasi itu sendiri hampir-hampir tidak menyentuk aspek moral.
Praktek-praktek KKN, meskipun dilakukan dalam lingkup kehidupan ekonomi dan politik, misalnya, diyakini berasal dari adanya krisis berdimensi moral. Sebab, menurut logika akal sehat, seseorang yang memiliki tingkat komitmen moral tinggi, atau dengan kata lain memiliki komitmen keagamaan yang baik, tidak mungkin terperosok ke dalam kubangan KKN. Demikianlah, maka praktek KKN hanya mungkin dilakukan oleh orang yang tidak bermoral.
Dalam konteks KKN, sering pelaku-pelakunya justru mengecam praktek-praktek KKN itu,dengan mengusung jargon-jargon manis seolah-olah mereka adalah barisan orang-orang bersih yang menentang KKN, padahal dalam kenyataannya mereka sendirilah pelakunya, sehingga mengaburkan antara nilai-nilai yang haqq dan batil. Berkata tidak jujur dan mencampur-adukkan antara yang haqq dan yang batil adalah diantara ciri orang munafik, yaitu orang yang antara perkataan dan perbuatannya tidak sejalan: “إِذَا حَدَثَ كَذَبَ”, “apabila berkata, ia berbohong”, kata Nabi.
لِمَ تَلْبِسُونَ الحَقَّ بِالْبَاطِلِ وتَكْتُمُونَ الحَقَّ وأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
…mengapa kamu mencampur-adukkan antara yang haqq dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui. (Q, s. Alu Imrân : 71)
ومَا نُرْسِلُ المُرْسَلِينَ إلاَّ مُبَشِّرِينَ ومُنذِرِينَ ويُجَادِلُ الَذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الحَقَّ واتَّخَذُوا آيَاتِي ومَا أُنذِرُوا هُزُواً
Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang haqq, dan mereka menganggap ayat-ayat Kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan. (Q, s. al-Kahfi : 56)
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah.
Parahnya, hal seperti ini justru banyak dilakukan oleh para elit di negeri ini. Mereka nampak mempesona, baik dari segi penampilan maupun perkataannya. Sudah menjadi tradisi, pada saat kampanye biasanya semua orang, khususnya para elit partai, berlomba-lomba meneriakkan perang melawan KKN. Namun, setelah kampanye usai dan mereka mendapatkan posisi strategis dalam pemerintahan, mereka lupa atau melupakannya, bahkan justru berlomba-lomba menguras kekayaan negara secara semena-mena.
Apa yang mereka katakan adalah كَلِمَةُ حَقٍّ يُرَادُ بِهَا بَاطِلٌ ; suatu pernyataan tentang kebenaran, tetapi motivnya berupa kebatilan. Kaum muslimin harus waspada, dan jangan sampai terjebak oleh bujukan mereka yang seolah-olah ingin memajukan bangsa, namun pada hakekatnya justru menghancurkannya.
وإذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وإن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ العَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan apabila melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka: semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran) (Q, s. al-Munâfiqûn : 4)
فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا ويَلْعَبُوا حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَذِي يُوعَدُونَ
Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka. (Q, s. al-Ma’ârij : 42)
ولا تَتَبَدَّلُوا الخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ ولا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إلَى أَمْوَالِكُمْ إنَّهُ كَانَ حُوباً كَبِيراً
…Jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk, dan jangan kamu makan harta (mereka) bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar. (Q, s. an-Nisâ’ : 2)
Saudara-saudara yang berbahagia..
Sekedar membedakan antara yang haqq dan yang batil merupakan sesuatu yang sulit di negeri ini. Padahal sering Nabi mengingatkan bahwa “الحَلاَلُ بَيِّنٌ وَالحَرَامُ بَيِّنٌ”: yang halal atau haqq jelas, dan jelas pula mana yang haram atau batil. Dalam konteks korupsi, kaburnya nilai-nilai kebenaran sering menjadikan kita tidak peka terhadap praktek-praktek korupsi, terutama yang dilakukan secara sistematis dan terselubung.
Korupsi yang dimulai dari praktek suap (risywah) adalah tindakan haram, dan uang hasil koupsi adalah uang haram. Rasulullah S.a.w bersabda,
الرَّاشِى وَالْمُرْتَشِى فِي النَّارِ(رواه الطبراني)
Orang yang menyuap dan yang disuap, (keduanya) penghuni neraka. (HR. Thabrani)
Saudara-saudara…, bagaimana mungkin korupsi, kolusi dan nepotisme justru tumbuh subur di negeri muslim terbesar ini? Seolah terdapat kontrakdiski dan kesenjangan yang tajam antara idealisasi Islam dengan realitas masyarakat muslim di Republik ini: antara ajaran Islam dengan prakteknya di lapangan.
Hadirin rahimakumullâh.
Korupsi harus dapat dicegah dengan jalan apapun, karena merupakan bentuk kemungkaran yang paling keji. Sesungguhnya kaum muslimin di negeri ini, memiliki potensi besar untuk memberantas praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Kuantitas kaum muslimin yang mencapai 80 %, yaitu kira-kira 175 juta dari total penduduk kurang lebih 220 juta adalah modal yang lebih dari cukup untuk melawan praktek-praktek korupsi. Oleh karenanya, kaum muslimin Indonesia harus bersatu-padu menentang, menolak, dan membasmi korupsi.
واعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً ولا تَفَرَّقُوا
Berpegang-teguhlah pada agama Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai. (Q, s. Alu Imrân : 103)
Dalam konteks perang melawan korupsi, ayat di atas mewajibkan kaum muslimin untuk “bersama-sama berpegang-teguh memberantas korupsi”. Jangan sampai ada diantara kaum muslimin yang justru menyembunyikan atau bahkan melindungi praktek korupsi, apalagi melakukannya sendiri, di saat kaum muslimin yang lain sedang berjuang melawan korupsi. “Janganlah kaum muslimin bercerai-berai dalam masalah ini.”
Mengingat kuantitas yang besar, maka tidak salah jika dikatakan bahwa baik-buruk dan maju-mundurnya bangsa ini, amat bertumpu pada diri kaum muslimin. Potensi 175 juta jiwa untuk memberantas korupsi, kini menemukan momentumnya melalui pemilihan umum, baik pemilihan umum legislatif maupun pemilihan presiden dan wakil presiden.
Umat Islam diharapkan tidak ceroboh dalam menjatuhkan pilihannya, agar tidak salah memilih orang-orang yang korup. Kita harus sadar dan percaya diri bahwa suara kita amat menentukan untuk masa depan Republik ini. Oleh karenanya, kaum muslimin harus teguh pendiriannya dan kokoh persatuannya, agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan politik sesaat yang menyesatkan.
Tibalah saatnya kini bagi kaum muslimin untuk mengucapkan “selamat tinggal” kepada calon-calon pemimpin yang tidak berpihak pada kepentingan umat Islam, korup, calon pemimpin yang bermasalah, dan terindikasi terlibat KKN. Rasulullah S.a.w pernah bersabda, “اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ “ “tanyalah pada hati nuranimu”. Oleh karena itu, tanyalah pada hati nurani kita sebelum menjatuhkan pilihan.
Inilah salah satu bentuk sumbangsih terbesar kita untuk memberantas korupsi dan memajukan negeri ini. Inilah bentuk lain amar ma’ruf nahi mungkar secara kolektif, agar kita menjadi, “umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia seluruhnya”. Inilah rahmat Allah untuk kaum muslimin, agar senantiasa hadir membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Umat Islam tidak boleh kehilangan momentum, supaya Allah tidak membinasakan kita dan digantikan dengan umat lain.
ورَبُّكَ الغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ إن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ ويَسْتَخْلِفْ مِنْ بَعْدِكُم مَّا يَشَاءُ كَمَا أَنشَأَكُم مِّن ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ
Dan Tuhanmu Maha Kaya, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagai mana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. (Q, s. al-An’âm : 133)
أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.









